Perbedaan Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka

Jawaban singkat perbedaan jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka adalah:

  • Jamu berupa bahan obat alami dengan sediaan berbentuk simplisia sederhana. Bisa berupa daun, bunga, irisan rimpang, kulit batang atau akar.
  • Obat herbal Terstandar (OHT) adalah jamu yang telah melewati uji praklinis baik in vivo (pada hewan percobaan) maupun invitro (pada cawan petri).
  • Fitofarmaka berupa obat herbal terstandar yang telah lolos uji klinis pada manusia.

Lebih jauh tentang ketiga jenis obat ini, akan kami jelaskan di dalam artikel, mulai dari contoh-contohnya, logo hingga standarisasi. Baca postingan ini sampai selesai, jangan lupa share juga kepada teman-teman kami. Mungkin mereka butuh.

Jika kamu sampai di artikel ini karena hendak menjawab soal mengenai pertanyaan di bawah ini, maka jangan asal copy paste. Baca postingan lengkap ini, dan rangkum supaya jawaban kamu berbeda dan lebih lengkap dibandingkan yang lain.

Jelaskan Perbedaan Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka

Seperti jawaban di atas, jamu adalah obat dalam sedian simplisia alami, obat herbal terstandar adalah jamu yang melewati uji praklinis sedangkan fitofarmaka adalah jamu yang telah lulus uji klinis (uji pada manusia).

Jika diistilahkan, maka fitofarmaka adalah jamu yang naik kelas.

1. Pengertian Jamu Menurut BPOM

Pengertian jamu kalau menurut Permenkes No. 003/Menkes/Per/I/2010, jamu merupakan ramuan bahan atau bahan yang bisa berupa hewan, tumbuhan, mineral, sediaan sarian (generik), ataupun campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah dipergunakan secara turun temurun untuk pengobatan. Kira-kira bahasanya seperti itu.

Jadi jamu ini tidak melewati uji praklinis (uji pada hewan atau pada cawan fetri) tetapi hanya menggunakan informasi turunan. Bisa dikatakan juga kalau bahan alami dikatakan jamu jika sudah melewati 3 generasi (turun temurun).

Jamu harus memenui persyaratan sebagai berikut:

  • aman dengan persyaratan yang ditetapkan.
  • klaim khasiat harus dibuktikan dengan data empiris.
  • wajib memenuhi syarat mutu atau kualitas yang berlaku.
  • klaim penggunaan harus diawali dengan kata- kata: ” Secara tradisional digunakan untuk …”.

Contoh Jamu

Ada banyak jenis jamu di Indonesia. Contohnya seperti di bawah ini.

Contoh Jamu dengan cap atau merek antara lain: jamu pegal linu, jamu gemuk sehat, jamu rapet wangi, jamu strong pas, jamu darsi, jamu Enkasari, jamu uyung upik, dan lain-lain.

2. apa yang dimaksud dengan obat herbal terstandar

Obat herbal terstandar atau OHT adalah sediaan jamu atau obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanannya. Khasiatnya pun sudah dibuktikan (secara ilmiah) walaupun hanya dalam uji pada hewan percobaan (uji pra klinik) atau uji pada cawan fetri (invitro). Bahan baku obat tradisional ini telah distandarisasi.

Persyaratan obat tradisional terstandar:

  • aman sesuai syarat yang ditetapkan.
  • klaim khasiat telah dibuktikan melalui uji invitro atau invivo pada hewan percobaan.
  • bahan baku telah distandarisasi, dipergunakan dalam produk jadi.
  • persyaratan mutu terpenuhi.

Dalam melakukan uji praklinis ini, petugas laboran harus mengenakan jas laboratorium sebagai tata tertib laboratorium kimia. Hubungi jual jas praktikum satuan jika kamu hendak memesan jas lab di konveksi jas laboratorium berpengalaman. Bahan dan jahitan berkualitas, harga terjangkau.

Contoh Obat Herbal Terstandar

Beberapa OHT yang dapat ditemukan di pasaran antara lain: Lelap, antangin JRG, Diapet, dan lain sebagainya. Cek ada tulisan OHT di kemasannya.

3. Apa itu fitofarmaka, Apa yang membedakan jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka ini

Jika jamu dan obat herbal terstandar sudah dijelaskan di atas, maka Fitofarmaka ialah obat dari bahan alam juga, sama seperti jamu dan OHT. Fitofarmaka ini juga telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah sama seperti OHT dengan uji praklinik (pada hewan percobaan).

Yang membedakan fitofarmaka ini dari OHT dan jamu adalah pada uji klinik (pada manusia). Bahan baku fitofarmaka dan produk jadinya sudah distandarisasi juga.

Syarat Fitofarmaka, harus memenuhi kriteria :

  • aman sesuai syarat yang telah ditetapkan.
  • klaim khasiatnya dibuktikan secara ilmiah melalui praklinik (pada hewan) dan klinik (pada manusia).Ini adalah syarat wajib.
  • Ada standarisasi bahan baku yang digunakan dalam produk jadi.
  • Memenuhi syaratan mutu yang berlaku.
  • Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat pembuktian medium dan juga tinggi.

Contoh Fitofarmaka

Beberapa contoh fitofarmaka yang sering ditemui di pasaran, misalnya: stimuno, inlacin, albumin plus, rheumaneer, tensigard, xgra, nodiar, dan lain-lain.

Kesimpulan

Kesimpulan pertanyaan di atas adalah, perbedaannya pada uji yang telah dilakukan. Untuk jamu khasiat dibuktikan secara empiris (turun temurun), obat herbal terstandar dengan uji praklinis baik melalui invivo atau invitro (hewan percobaan) sedangkan fitofarmaka melalui uji klinis pada manusia.

Ketiganya sama-sama menggunakan bahan alami sebagai bahan utamanya.

Jika dirunut, maka fitofarmaka adalah jamu yang naik kelas karena berkhasiat secara klinis. Telah diujikan kepada manusia dan berkhasiat.


admin

Ahmad, S.Far., Apt. Adalah author (penulis) dari setiap postingan blog di website ini. Merupakan lulusan jurusan farmasi sehingga sudah menguasai seluk beluk jas laboratorium dan seluk beluk kefarmasian. Mulai tahun 2012 fokus dalam usaha konveksi dengan salah satu produk adalah jas laboratorium.

Tinggalkan komentar